×

Bukan Menggurui, Begini Adab Menegur Orang Tua yang Salah Menurut Pandangan Islam Tanpa Menyakiti

Redaksi

Redaksi

Bukan Menggurui, Begini Adab Menegur Orang Tua yang Salah Menurut Pandangan Islam Tanpa Menyakiti

RELIGI, UNGGAH.com - Menemukan orang tua melakukan kekeliruan, baik dalam urusan ibadah maupun muamalah kehidupan sehari-hari, sering kali menempatkan seorang anak pada posisi mental yang serba salah. Di satu sisi, setiap muslim memiliki kewajiban mutlak untuk saling menasihati dalam kebenaran atau mempraktikkan amar ma'ruf nahi mungkar.

Namun di sisi lain yang tidak kalah beratnya, anak selalu dibayangi ketakutan luar biasa akan dicap durhaka atau tanpa sengaja menyakiti hati ayah dan ibu mereka. Lalu, bagaimana sebenarnya adab menegur orang tua yang salah menurut pandangan Islam yang paling tepat, aman, dan beradab untuk diterapkan dalam kehidupan nyata?

Langkah Spesifik: Cara Menegur Orang Tua yang Salah Menurut Islam

Islam memberikan panduan yang sangat komprehensif dan rinci mengenai cara menegur orang tua yang salah menurut Islam tanpa harus melukai perasaan dan menjatuhkan harga diri mereka. Pendekatan dari permasalahan teknis yang spesifik ini sangat penting untuk dipahami oleh setiap anak muslim sebelum membedah teori yang lebih luas.

BACA JUGA: PP Tunas Resmi Berlaku: Daftar Medsos yang Batasi Pengguna di Bawah 16 Tahun

Kunci utamanya selalu terletak pada pemilihan kata yang cermat, pengaturan intonasi suara yang pas, serta kecerdasan mencari momentum yang paling tepat saat hendak menyampaikan suatu nasihat. Berikut adalah langkah-langkah spesifik yang bisa langsung Anda praktikkan di rumah:

1. Menggunakan Bahasa yang Sangat Lembut (Qawlan Karima)

Ketika Anda berniat menasihati ibu bapak tanpa menyakiti, hal pertama dan paling krusial yang wajib diperhatikan secara mutlak adalah tutur kata kita sendiri. Al-Qur'an secara eksplisit dan tegas melarang seorang anak untuk sekadar mengucapkan kata "ah" atau "cis", apalagi sampai berani membentak dan menghardik mereka.

Gunakanlah kata-kata yang mulia, yang dalam literatur Al-Qur'an disebut sebagai qawlan karima, serta harus senantiasa diucapkan dengan penuh penghormatan. Hindari sama sekali penggunaan nada suara yang lebih tinggi dari volume suara orang tua anda, karena adab anak kepada orang tua dalam Islam senantiasa menuntut ketawadhuan atau sikap rendah hati yang paripurna di hadapan mereka berdua.

BACA JUGA: Google dan Meta Dipanggil Komdigi soal PP TUNAS

2. Memilih Waktu dan Ruang yang Paling Kondusif

Contoh menegur orang tua dengan sopan dan beradab adalah dengan tidak pernah berani melakukannya di ruang publik atau di hadapan anggota keluarga yang lain secara terbuka.

Carilah waktu khusus dan tersembunyi di mana ayah atau ibu anda sedang dalam keadaan santai, tidak merasa lelah setelah seharian bekerja, suasana hati mereka sedang sangat baik, dan lakukanlah perbincangan tersebut secara empat mata di ruangan yang tertutup.

Menasihati atau menegur mereka di depan orang banyak pada hakikatnya sama saja dengan merendahkan serta mempermalukan mereka, dan tindakan semacam ini sangat dilarang keras karena bertentangan dengan akar akhlak Islami.

BACA JUGA: Sah! WFH Tiap Jumat Mulai 1 April & Evaluasi Pasca-Lebaran Bagi ASN

3. Memposisikan Diri Sebagai Penanya, Bukan Sang Penceramah

Hukum menasihati orang tua yang keras kepala atau sedang berada dalam kekeliruan tidak boleh sama sekali dilakukan dengan gaya angkuh seperti seorang guru yang sedang menghukum atau menceramahi muridnya di kelas.

Sebaliknya, sangat disarankan bagi anak untuk menggunakan pendekatan psikologis dengan cara memohon penjelasan atau memancing mereka berdiskusi secara hangat. Misalnya, anda bisa memulai dengan kalimat pancingan seperti, "Bapak, Ibu, mohon maaf sebelumnya, kemarin saya sempat mengikuti kajian keislaman dan membaca buku agama, di situ disebutkan tentang hukum hal ini, apakah pemahaman saya ini sudah benar atau kiranya masih ada yang keliru ya?" Cara komunikasi pasif semacam ini jauh lebih halus, elegan, dan terbukti ampuh membuat orang tua ikut merenungi kesalahannya tanpa mereka merasa diserang gengsinya.

4. Melibatkan Bantuan Pihak Ketiga yang Paling Dihormati

BACA JUGA: Kalapas Atambua Tegaskan Disiplin ASN Jadi Kunci Pemasyarakatan Zero Risiko

Apabila teguran secara tatap muka langsung terasa sangat menyulitkan secara mental atau memiliki potensi besar memicu konflik keluarga yang berkepanjangan, adab menegur orang tua juga bisa disiasati melalui sebuah perantara.

Anda bisa mencoba meminta bantuan secara diam-diam kepada kerabat keluarga yang usianya jauh lebih tua, seperti paman, bibi, kakek, atau tokoh agama setempat (ustadz/kiyai) yang memang sangat dihormati oleh kedua orang tua Anda.

Terkadang, realitas psikologis menunjukkan bahwa orang tua memang jauh lebih mudah untuk menerima sebuah kebenaran dari orang yang sepadan usianya, atau dari sosok yang kedudukannya sangat mereka segani secara sosial, dibandingkan harus mendengarkan nasihat langsung dari mulut anak kandungnya sendiri yang dulu biasa mereka gendong.

5. Memperbanyak Doa Memohon Hidayah Tanpa Mengenal Lelah

BACA JUGA: Pascal Struijk di Persimpangan Jalan: Antara Newcastle United, Liga Champions, dan Timnas Indonesia

Langkah pamungkas yang sama sekali tidak boleh dilewatkan dalam setiap usaha yang melibatkan proses menegur orang tua adalah kekuatan tak kasat mata dari sebuah doa.

Perlu kita sadari betul sejak awal bahwa hati dan pemikiran setiap manusia sepenuhnya berada murni di dalam genggaman kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta'ala, Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati hamba-Nya. Oleh karena itu, berdoalah dengan derai air mata dan sungguh-sungguh setiap selesai menunaikan ibadah shalat fardhu agar Allah senantiasa berkenan memberikan hidayah, taufiq, dan kelembutan hati kepada kedua orang tua kita agar mereka sudi menerima sebuah kebenaran syariat.

Kisah Teladan Nabi Ibrahim 'Alaihissalam dalam Menasihati Ayahnya

Setelah memahami panduan teknis yang spesifik di atas, kita perlu melebarkan wawasan dengan menarik benang merah pelajaran dari sejarah teladan agung para Nabi terdahulu.

BACA JUGA: IPO WBSA: Mengulas Prospek Saham BSA Logistics dan Strategi Akuisisi di Balik Harga Rp168

Kita bisa menganalisis dengan sangat terperinci pada kisah luar biasa Nabi Ibrahim 'Alaihissalam ketika beliau dihadapkan pada ujian berat harus menasihati ayahnya sendiri, yakni Azar, yang merupakan seorang dedengkot pembuat patung berhala pada masanya.

Peristiwa sejarah yang sangat menyentuh hati sanubari ini diabadikan Tuhan dengan diksi sastra yang luar biasa indah di dalam Al-Qur'an, tepatnya terekam jelas pada lembaran Surah Maryam.

Walaupun sang ayah terbukti nyata melakukan kejahatan spiritual paling besar yaitu kesyirikan, Nabi Ibrahim sama sekali tidak pernah terpancing untuk membentak, mencaci maki, mendebat dengan urat leher, atau merendahkan martabat ayahnya.

Beliau tetap konsisten memanggil ayahnya dengan panggilan penuh kesayangan dan penghormatan tertinggi, yaitu dengan lantunan sebutan "Ya abati" (Wahai ayahku tersayang). Fakta sejarah kenabian ini secara tak terbantahkan membuktikan bahwa kewajiban berbakti kepada orang tua tetap wajib dipertahankan secara utuh, dan adab harus terus dijaga ketat dengan standar moral tertinggi, sama sekali tidak peduli seberapa besar eskalasi kesalahan dan kemaksiatan yang sedang mereka kerjakan.

BACA JUGA: Provider Internet Tercepat di Papua 2026: Daftar ISP Terbaik dan Panduan Memilihnya

Memahami Kaidah Umum Berbakti kepada Orang Tua (Birrul Walidain)

Pada tingkatan filosofis yang paling umum dan fundamental, kebingungan kita dalam memahami adab dan hukum menegur orang tua ini pada akhirnya akan selalu bermuara kembali pada satu prinsip dasar penyangga syariat Islam, yaitu konsep super mulia birrul walidain atau kewajiban absolut untuk berbakti kepada kedua orang tua.

Posisi hierarki ayah dan ibu di dalam sistem ajaran Islam sungguh menempati tempat yang sangat istimewa, mulia, dan luhur tanpa tanding jika disandingkan dengan manusia lainnya di bumi.

Terdapat kaidah langit yang sangat populer menyebutkan bahwa turunnya keridhaan Allah senantiasa akan selalu bergantung erat pada keridhaan orang tua, dan berlaku sebaliknya, jatuhnya murka Allah juga akan selalu mengiringi kemarahan mereka terhadap kelakuan anaknya.

BACA JUGA: Cara Cek Aplikasi yang Boros Baterai di HP Android Tanpa Aplikasi Tambahan

Konsep indah berbakti kepada orang tua sama sekali bukanlah sebuah transaksi dagang komersial atau hubungan timbal balik sosial yang mensyaratkan sesuatu.

Kewajiban seorang anak keturunan untuk terus menerus berbakti tidak akan pernah bisa hangus dan gugur begitu saja hanya karena kebetulan ia ditakdirkan memiliki orang tua dengan tabiat yang sangat buruk, watak yang mudah meledak, kerap berbuat dosa, atau bahkan pada persimpangan titik terburuk sekalipun, yakni ketika mereka secara lisan langsung memerintahkan anaknya untuk ikut melakukan perbuatan maksiat.

Jika memang suatu masa nanti mereka memerintahkan Anda kepada sebuah perbuatan yang secara hitam putih bertentangan dengan syariat dan ketetapan Allah, maka sebagai seorang muslim sejati yang memiliki akal sehat, kita memang diwajibkan syariat untuk menolaknya dengan tegas, sopan, dan berani.

Namun poin kritisnya adalah, penolakan logis atas dasar pertimbangan keimanan tersebut tetap mutlak mengharuskan kita untuk membarenginya dengan pergaulan sosial serta perlakuan fisik yang ekstra baik kepada mereka selama kita dan mereka menjalani sisa napas kehidupan di dunia yang fana ini.

BACA JUGA: Jalur Utama Distribusi Minyak Dunia yang Paling Strategis, Usai Perang Iran-AS

Merawat Adab Menjaga Hidayah Sepanjang Usia

Sebagai sebuah konklusi penutup dari keseluruhan tulisan ini, dapat ditarik benang merah bahwa adab menegur orang tua yang salah menurut pandangan Islam mutlak mengharuskan setiap anak untuk meramu kombinasi apik dari kecerdasan emosional yang tinggi, kelembutan vibrasi tutur kata, kelihaian membaca cuaca hati dalam memilih waktu, serta investasi komitmen doa tulus yang terus dipanjatkan tanpa pernah merasa bosan.

Jangan sampai terukir sebuah tragedi pilu di mana niat awal luhur kita yang sangat baik untuk melakukan perbaikan agama keluarga, pada kenyataannya justru membuahkan tragedi berwujud dosa besar berupa kedurhakaan hanya karena kita ceroboh menggunakan cara penyampaian yang sangat kasar, menyayat nurani, dan menghancurkan martabat kebanggaan mereka.

Pada stasiun terakhirnya, sebuah kebenaran ajaran agama sejati di dalam Islam akan terus menerus menuntut pembawanya untuk selalu membalut kebenaran itu dengan adab dan akhlak yang paling mempesona manusia.

Hal prinsipil ini menjadi berlipat ganda bobot kepentingannya, terlebih lagi jika pesan kebenaran tersebut hendak kita arahkan dan kita sampaikan langsung kepada dua sosok manusia renta paling berharga di bawah kolong langit ini, yang mana peluh keringat mereka berdua telah menjadi jembatan emas bagi kita semua untuk mengetuk gerbang surga-Nya kelak.

Semoga tulisan sederhana ini menjadi pengingat, dan semoga kita semua yang sedang kepayahan terus berjuang memperbaiki kualitas diri ini senantiasa diberikan kelapangan, kemampuan mental, dan kesabaran ekstra oleh Tuhan Semesta Alam.

Harapannya kelak, kita semua pantas dicatat serta digolongkan oleh Allah sebagai barisan bagian dari anak-anak yang shalih dan shalihah, yang mana doa-doa baiknya senantiasa berhasil menyelamatkan dan membanggakan orang tuanya baik ketika masih menghirup udara di dunia maupun saat kelak beristirahat di alam akhirat.

Penulis: Niskala
Advertisement